Mojokerto (beritajatim.com) – Arkeolog Ismail Lutfi menyebut ada empat poin dari isi batu prasasti yang ditemukan di Situs Gemekan beberapa waktu lalu. Yakni angka tahun, nama raja, nama daerah yang diundang menjadi saksi ketika upacara penetapan sima dan empat masih menjadi pekerjaan rumah (PR) Tim Arkeolog Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim.

“Pertama. Pada baris pertama, ada penyebutan angka tahun dan sudah dikompresikan oleh kawan saya dari Perancis itu ketemu sampai tanggalnya yakni 7 Oktober 930 masehi. Kedua, menyebutkan nama rajanya. Sri Maharaja Rake Hino Mpu Sindok, sangat jelas itu,” tegasnya, Jumat (4/3/2022).

Ketiga. Ada nama penting yakni orang-orang yang diundang menjadi saksi ketika upacara penetapan sima (tempat suci/dugaan Situs Gemekan, red). Salah satunya adalah nama Desa Lemah Tulis. Menurutnya, pihaknya sudah menemukan data penting dari batu prasasti Alasantan yang ditemukan di Desa Bejijong.

“Ternyata Alasantan itu menyebutkan Lemah Tulis itu nama asli dari Bejijong (Desa di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, red). Dan jarak antara Gemekan dan Bejijong itu tidak terlalu jauh. Jadi sangat relevan informasi dari prasasti ini, kalau menyebutkan salah satu pejabat di lingkungan sini yang diundang itu Lemah Tulis,” jelasnya.

Empat. Masih kata Lutfi, ada satu PR dalam mengungkap isi batu prasasti Situs Gemekan di Dusun Kedawung, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto tersebut. Yakni kata ‘Padang’ sebagai induk dari wilayah Gemekan. Karena di masa abad 10 tersebut, Gemekan adalah wilayah dari Watak Padang.

“Kita harus cari Padang itu masih ada, di sekitar Mojokerto ini. Dimana Padang itu yang radiusnya itu kira-kira tidak terlalu jauh lah. Karena wilayah ini dibawah kekuasaan Padang. Dalam bahasa Jawa Kuno adalah sebuah watak. Watak itu kumpulan dari waluwah, waluwah itu kalau sekarang sama dengan desa,” tuturnya.

Situs Gemekan Mojokerto

Seperti wilayah kabupaten. Lutfi menjelaskan, karena di masa itu berkuasa seorang rakai dan rakai tersebut bisa berperan sebagai raja kecil atau saat ini disebut Bupati. Terkait agama di Situs Gemekan, menurutnya, Maharaja Mpu Sindok mengayomi semua agama.

“Jumlah prasasti yang beliau (Mpu Sindok, red) keluarkan, itu mengayomi agama Hindu dan Budha. Kalau saya menangkapnya dari sisi itu, toleransi Mpu Sindok itu sangat luar biasa. Dan itu bagi saya tidak kaget. Kalau bicara paling banyak, tidak biasa. Perlu kita pahami, sejak Medang di Jawa Tengah itu antara agama Budha atau Sugata dan agama Siwa atau Hindu itu sudah rukun,” urainya.

Bahkan ada contoh, lanjut Lutfi, seorang raja yang beragama Hindu menyumbang stupa untuk candi Budha. Yakni Rakai Pikatan Dyah Saladu yang dipahat di Prasasti Pendek di Candi lor di Klaten, Jawa Tengah. Sehingga mengenai kwuantitas bangunan suci tidak bisa ditentukan mana yang lebih dominan.

“Karena memang rupa-rupa berkembang lebih lanjut, ajaran di Jawa bukan saja Siwa saja, Budha saja tapi penggabungan Siwa-Budha. Kita menunggu hasil ekskavasi dulu karena posisi temuan itu menentukan sekali untuk kita berikan jawaban atas latar belakang agama candi yang ada di Situs Gemekan ini,” katanya.

Menurutnya, ia tidak bisa menyimpulkan sebelum ada data arkeologi yang mendukung ke arah agama yang dianut di masa tersebut. Ekskavasi tahap kedua Situs Gemekan berlangsung mulai tanggal 1 sampi 6 Maret 2022 dengan sasaran menampakkan lebih jelas lagi struktur Situs Gemekan. [tin/ted]