Mojokerto (beritajatim.com) – Siti Ulifah (41 sebelumnya 32) diduga depresi sehingga bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta api yang melintas di Desa Balongwono, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto tepatnya di KM 64 200 SD 80+400. Potongan tubuh korban ditemukan tercecer sepanjang 300 meter.

Kepastian kondisi korban warga Desa Modongan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini dibenarkan kakak ipar korban, Mukminin (50). Korban mengalami depresi dan berobat ke dokter syaraf namun kondisi korban sejak sebulan sudah membaik.

“Satu bulan sudah mendingan, sudah sembuh. Dia ibu rumah tangga, anaknya dua. Satu kerja di pabrik sandal biasanya dibawa pulang dan dia bantu-bantu. Tapi pandemi ini, sudah tidak bawa kerjaan ke rumah jadi mungkin tidak ada kesibukan,” ungkapnya, Jumat (9/4/2021).

Petugas mengevakuasi korban di rel kereta api Desa Balongwono, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Mukminin menjelaskan, jika setiap hari korban bersama anak keduanya yang duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ini lantaran masih pembelajaran melalui dalam jaringan (daring). Namun dugaan bunuh diri sudah dicurigai keluarganya sejak dua minggu lalu.

“Anaknya yang pertama tahu kalau dia bawa tali tampar, tidak tahu mau dibuat apa. Keluarga sudah curiga, dicegah. Minta ke sini, keluarga curiga mau bunuh diri. Ini kondisi kembali lagi mungkin karena tidak ada kesibukan, yang biasanya bahan sepatu kan ikut mengerjakan. Sekarang nggak ada, libur karena corono,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolsek Trowulan, Kompol Subiyanto mengatakan, korban diduga bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta api yang melintas. “Iya tadi ditemukan potongan tubuh korban di perlintasan kereta api, diduga korban bunuh diri karena depresi. Kita akan lakukan identifikasi lebih lanjut,” tegasnya. [tin/ted]