Mari! Bung Karno kasi tangan yuk kita bikin janji Aku telah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang atas apimu Digarami oleh lautmu Dari mula tgl 17 Agustus 1945 Aku melangkah kedepan berharta rapat disisimu Aku sekarang elektrik aku sekarang laut Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat Dizatmu dizatku kapal2 kita berlayar Diuratmu diuratku kapal2 kita bertolak dan berlabuh

Boleh jadi, tidak ada pemimpin bangsa ini yang menyesatkan berpengaruh selain Soekarno. Puisi Chairil Anwar berjudul ‘Persetujuan dengan Bung Karno’ yang dibuat tahun 1948 menunjukkan, betapa kuatnya pengaruh tersebut.

Bung Karno selama ini dianggap dari juru cakap bangsa Indonesia, sebuah bangsa yang tertindas. Ia juga dianggap ahli bicara bangsa-bangsa dunia ketiga di hadapan Blok Timur Uni Soviet dan Blok Barat Amerika Konsorsium. Nasionalisme, kemandirian, perlawanan terhadap penindasan selalu menjadi tema sentral aliran Soekarno sejak muda.

Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1921 dari bagian Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Rai Srimben. Ia dilahirkan di zaman fajar menyingsing. Awalnya, Soekemi menamakan sang anak ‘Kusno’. Namun Kusno kecil sakit-sakitan, dan Soekemi memutuskan mengubah nama sang anak menjadi Soekarno.

Dalam bukunya mengenai sang presiden itu, wartawati Cindy Adams menuliskan betapa bangganya Soekarno dengan fakta kelahiran dirinya pada saat fajar. “Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu, ” kata Soekarno.

“Bersamaan dengan kelahiranku menyingsinglah fajar dari suatu hari yang baru dan menyingsing pulalah pagi buta dari satu abad yang mutakhir. Karena aku dilahirkan di tarikh 1901. Bagi Bangsa Indonesia kurun ke sembilan belas merupakan zaman yang gelap. Sedangkan zaman saat ini baginya adalah zaman yang terang-benderang dalam menaiknya pasang revolusi kemanusiaan, ” kata Soekarno.

Soekarno menggambarkan kehidupan masa kecilnya dalam kemiskinan. Kisah kemiskinannya di masa kecil, seolah meneguhkan bahwa dia bagian dari kaum proletar, bukan borjuis, walaupun sang abu adalah seorang raden. Gaji ayahnya yang bekerja pada pemerintahan kolonial Belanda hanya f 25 sebulan. Setelah dikurangi uang sewa panti di Jalan Pahlawan 88, Surabaya, keluarga itu hanya punya f15. “Aku tidak mempunyai sepatu. Awak mandi tidak dalam air dengan keluar dari kran. Aku tidak mengenal sendok dan garpu, ” katanya.

Presiden Soekarno (AFP)

Saat pindah ke Mojokerto, sebuah kota sekitar 30 kilometer dari Surabaya, kemiskinan belum juga beranjak dari keluarga Soekemi. “Kami tinggal di daerah yang papa dan keadaan tetangga-tetangga kami tak berbeda dengan keadaan sekitar itu sendiri, ” kata Soekarno.

Namun Soekarno masih beruntung bisa bersekolah dan mengenyam pengetahuan politik dalam usia muda. Ini seperti menegaskan Takdir kepemimpinan Soekarno. Dia mulai mengenal pemikiran-pemikiran politik di rumah Ketua Sarekat Islam Haji Oemar Said Tjokroaminoto, dalam kawasan Peneleh, pada usia baru 14 tahun. Kala itu ia bersekolah di Hoogere Burger School.

Soekarno sengaja dititipkan oleh sang ayah kepada Tjokroaminoto. “Tjokro adalah pemimpin politik dari orang Jawa. Sungguh pun engkau akan mendapat pendidikan Belanda, ego tidak ingin darah dagingku menjelma kebarat-baratan. Karena itu kau kukirim kepada Tjokro, orang yang dijuluki oleh Belanda sebagai ‘Raja Jawa yang tidak dinobatkan, ” prawacana Soekemi kepada anaknya.

Soekarno menyebut Tjokroaminoto gurunya. Dari Tjokro, ia menerima bahan-bahan bacaan yang kelak membentuk pemikirannya. Ia menyaksikan langsung para aktivis Sarekat Islam berdiskusi di Peneleh. “Aku menghirup lebih banyak lagi masalah politik di rumah Pak Tjokro, dapur daripada nasionalisme, ” katanya.

Selain memberikan si anak, Oetari, untuk dinikahi Soekarno, Tjokroaminoto juga memberikan panggung bagi anak muda itu. Dalam piawai 20 tahun, Soekarno sudah diminta menulis secara teratur di koran milik Sarekat Islam, Oetoesan Hindia. Tjokroaminoto adalah salah satu ilham bagi Soekarno untuk menyatukan tiga ideologi besar: Islam, Marxisme, dan nasionalisme. Tjokroaminoto adalah guru gembung bagi tiga aliran gerakan di Indonesia itu.

Medio 1921, Soekarno diterima di Technische Hooge School (sekarang Institut Teknologi Bandung) jurusan Teknik Sipil. Selepas dari kuliah, ia aktif di dunia pergerakan. Tanggal 4 Juni 1927, ia mendirikan Partai Nasional Indonesia di Bandung. Tujuan pembentukan partai ini cukup terang-benderang kalau dilihat dari slogannya: ‘Merdeka saat ini juga! ’. Ia ditangkap oleh Belanda karena dianggap makar.

Belakangan urusan ditangkap oleh Belanda menjadi ‘makanan sehari-hari’ untuk Soekarno. Tahun 1934, ia dibuang ke Ende, Flores. Tahun 1938, ia dipindahkan ke Bengkulu. Dia kembali ke Jawa saat Jepang berkuasa. Dan 17 Agustus 1945, bersama Mohammad Hatta, ia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dua orang tersebut kelak dijuluki ‘Dwitunggal’: Soekarno menjadi presiden, Hatta menjadi wakil.

Alam pikiran dan aliran Soekarno banyak dipengaruhi oleh Marxisme. Sejak muda, ia sudah menentang kapitalisme yang dianggapnya sebagai arah dari ideologi kerakusan Barat untuk mengeksploitasi Indonesia. Pengejaran terhadap rente dan penumpukan modal di serampangan Soekarno hanya akan memunculkan eksploitasi manusia oleh manusia.

Suatu ketika, Soekarno menggantikan Tjokroaminoto berpidato di sebuah pertemuan kecil. Tema penghisapan terhadap Indonesia dimunculkannya dan membakar orang-orang yang tampil. “Penjajah hanya mau memetik hasilnya. Ya, mereka menyuburkan bumi kita ini. Betul! Akan tetapi tahukah saudara dengan apa mereka menyuburkan bumi kita ini? … Dunia kita ini mereka suburkan dengan mayat-mayat yang bergelimpangan dari anak buah kita yang mati karena kelaparan, kerja keras dan hanya susunan tulang-belulang! ”

Dalam pidato-pidatonya di dunia pergerakan, Soekarno menyebut ‘kapitalisme harus dilenyapkan’. Pernyataannya ini membuat pemerintah Belanda menganggapnya sebagai ancaman yang harus diwaspadai. Namun ia bersikukuh dengan pemikirannya. Negara-negara Barat, tentu saja, ialah personifikasi dari kapitalisme yang menindas. “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika, ” demikian salah satu slogan Soekarno yang terkenal.

Soekarno menyebut revolusi perniagaan di Eropa sebagai pemicu imperialisme, bentuk lanjut kapitalisme yang mengacaukan negara-negara Dunia Ketiga seperti Indonesia. Ia membenci merkantilisme, yang dalam kajian ekonomi politik, merupakan perhimpunan pemerintah Barat dengan para distributor untuk menjadikan negara-negara nonbarat sebagai sumber bahan mentah sekaligus rekan.

“Kapitalisme ini muncul hingga ia mengenyangkan lapangan eksploitasi dalam masyarakat mereka sendiri. Barang-barang yang sebelumnja diimpor dari Timur, sekarang sudah diekspor ke Timur; jadi Timur menjadi pasar-pasar bunga untuk barang-barang berlebih. Daerah Timur menjadi suatu pasar untuk pangkal berlebih yang tidak lagi mampu memperoleh jalan keluar. Liberalisme di dalam ekonomi lalu membawa Liberalisme di dalam politik. Untuk mengendalikan ekonomi sebab negara lain, terlebih dulu negeri itu harus ditaklukkan. Pedagang-pedagang menjelma penakluk; bangsa-bangsa Asia-Afrika dijajah & kelobaan ini, ” kata Soekarno kepada Cindy Adams.

Kebencian Soekarno terhadap kapitalisme serta imperialisme membuatnya enggan berhubungan dengan Barat dalam hal bantuan ekonomi semasa berkuasa. “Go to Hell with your aid, ” menjadi salah satu petikan pidato Soekarno yang agitatif dan membakar sifat rakyat. Ia menekankan perlunya independensi bangsa, tidak tergantung kepada kerabat asing.

Dalam khotbah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Soekarno mengatakan tujuan jangka pendek pemerintahannya: “…melanjutkan perjuangan anti-imperialisme, ditambah dengan mempertahankan kepribadian kita di tengah-tengah tarikan-tarikan ke kanan dan ke kiri…”

Semboyan yang paling tenar adalah lepas atau berdiri di atas menguasai sendiri. Konsep ini sebenarnya, sedikit-banyak, dipengaruhi prinsip Tjokroaminoto yang ditelurkan dalam hasil kongres pertama Sarikat Islam, Juni 1916, yakni ‘menolong diri sendiri untuk mencapai posisi persamaan dengan bangsa-bangsa lain’.

Tidak bisa tidak, Pancasila adalah karya jenius seorang Soekarno. Lima sila yang menunjukkan bagaimana Soekarno memahami benar bagaimana negeri seharusnya dipandang: warna-warni, kompleks, serta saling terkait. Sila pertama, membuktikan elemen agama dan religiusitas dalam kehidupan berbangsa. Sila kedua merupakan elemen humanisme, kemanusiaan yang menyeberangi batas dan demarkasi sosial. Etik ketiga jelas sebuah elemen kebangsaan. Sila keempat, tak dapat disangkal, merupakan elemen demokrasi. Sila kelima jelas sebuah elemen sosialisme.

Lima elemen. Lima narasi besar. Lima narasi kanonik dalam dunia. Dan, Soekarno bisa merangkumnya sebagai dasar sebuah bangsa. Sungguh biasa.

Pancasila menjelma tema pidato Soekarno di hadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 1 Juni 1945. Melalui Pancasila, ia ingin membuktikan bahwa Indonesia adalah satu satuan tak terpisahkan. Indonesia melintasi sekat-sekat, batasan-batasan. Dengan mengutip Ernest Renan, Soekarno mengatakan bahwa syarat bangsa adalah adanya kehendak untuk sepakat. Pancasila adalah itikad itu.

Soekarno menawarkan Pancasila jadi dasar Negara. “Saya senang pada simbolik. Simbolik angka pula. Damai Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan…Sekarang banyaknya prinsip: kewarganegaraan nasional, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima pula bilangannya, ” katanya.

Bahkan, Soekarno menganjurkan agar lima sila itu diperas menjadi tiga, jika memang lebih disukai demikian: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan ketuhanan. Namun, jika ada menyenangi hanya satu sila sebagai pokok, ia mengusulkan satu kata untuk merangkum semua sila tersebut: gotong-royong.

“Gotong-royong adalah pendirian yang dinamis, lebih dinamis sejak ‘kekeluargaan’… menggambarkan satu usaha, utama amal, satu pekerjaan… Prinsip-gotong royong di antara yang kaya & yang tidak kaya, antara dengan Islam dan yang Kristen, jarang yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia, ” katanya.

Soekarno sangat mencintai persatuan. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang menghargai memperlawankan ideologi. Ia dibesarkan di lembah asuhan intelektual tokoh Sarikat Agama islam Tjokroaminoto. Di Peneleh, Surabaya, dia bersinggungan dengan murid-murid Tjokro lainnya: Semaun dan Alimin (komunis) dan Kartoswuriyo (Islam).

Soekarno melihat Islam, Nasionalisme, dan Marxisme adalah api perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Maka tiga kelompok ini harus disatukan, dan dalam tahun 1926, lahirlah artikel berjudul: ‘Nasionalisme, Islam, dan Marxisme’. “Aku seorang nasionalis yang yakin, seorang muslim yang yakin, seorang marxis yang yakin, ” katanya.

Konsep ini kembali digaungkannya saat menjadi presiden dan melahirkan Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunis) sebagai pilar pemerintahannya. “Nasakom adalah jiwa yang berisi tiga kekuatan tempat kami berdiri tegak, ” katanya. Tiga partai menjadi asas penyangga konsep ini, yaitu Kelompok Nasional Indonesia, Partai Nahdlatul Ustazah, dan Partai Komunis Indonesia.

Konsep Nasakom ini merupakan perwujudan ketidaksabaran Soekarno terhadap pertentangan partai-partai, antara kelompok nasionalis-sekuler secara agama (dalam hal ini gabungan Islam). Soekarno mencintai demokrasi. Namun sejak awal, ia tak terlampau suka dengan demokrasi ala Barat yang bertolak dari individualisme atau liberalisme. “Kalau kita mencari demokrasi hendaknya bukan demokrasi Barat, tapi permusyawaratan yang memberi hidup, yaitu politiek-economische democratie yang mampu menimbulkan kesejahteraan sosial! ” katanya.

Bagi Soekarno, pelaksanaan demokrasi tidak boleh menghancurkan orientasi sempurna yakni nasionalisme, revolusi nasional, & persatuan Indonesia. “Demokrasi…adalah alat. Kendaraan untuk mencapai masyarakat adil-makmur yang sempurna. Pemilihan umum adalah metode untuk menyempurnakan demokrasi itu…kalau keutuhan bangsa berantakan karena pemilihan ijmal itu, …maka benarlah apa dengan kukatakan tempo hari, bahwa di sini ‘alat lebih jahat daripada penyakit yang hendak disembuhkannya’, ” katanya.

Maka, era ia melihat sistem multipartai pada tahun 1950-an sudah bikin sumpek, dengan lugas, ia berpidato: marilah kita kubur partai-partai. Di lengah Soekarno, penyakit kepartaian kadang lebih hebat daripada sentiment etnis dan primordial. Dengan terang-terangan, ia menyesal, pemerintah menganjurkan pendirian partai-partai dalam November 1945.

Kritik Soekarno terhadap kelompok yang rasanya masih mengena datang sekarang ini adalah banyaknya partai yang diperlakukan seperti perusahaan: memeriksa keuntungan pribadi daripada berjuang untuk rakyat. “Yang menjadi directeur eigenaar daripada sesuatu partai, ialah Sang Pemimpin yang membuat partai sesuai NV! “

“Bagaimanapun juga tidak ada satu bani adam dapat membenarkan adanya 40 golongan di dalam Tanah Air kita ini! … Hal ini harus dirasionalkan… harus disehatkan. Caranya dengan jalan apa? Sedikitnya, sedikitnya harus dikurangi jumlah partai itu. ” Jika ternyata tidak bisa dikurangi, maka ia mengusulkan agar partai-partai dikubur bersama-sama. Sebagai gantinya adalah satu golongan, mendirikan beberapa partai rasional, ataupun satu gerakan massa. Dalam konteks ini, Nasakom menjawab model kurang partai rasional yang disebut Soekarno untuk menyokong konsep demokrasi terkendali.

Mengapa Soekarno betul menekankan perlunya persatuan, terutama di bidang politik dan ranah demokrasi? Ini tak lepas dari pendirian ideologisnya yang meyakini bahwa revolusi belum selesai. “Yang dinamakan revolusi adalah ialah bentrokannya dua warga tenaga yang menghantam satu cocok lain. Revolusi Indonesia pun adalah bentrokannya dua puak tenaga yang menghantam satu sama lain… Kilang Indonesia versus pabrik Belanda, bengkel kemerdekaan versus pabrik penjajahan, ” katanya.

“Memang pengamalan faset konstruksi dalam sesuatu revolusi selalu minta lebih banyak zaman daripada pelaksanaan faset destruksinya. Tersebut kita tahu, hanya saja kejadian itu sering dilupakan oleh golongan-golongan dalam masyarakat kita yang tak sabar dan pagi-sore tidak mencadangkan bekerja, tetapi hanya menuntut sekadar, menuntut, dan sekali lagi menuntut, ” katanya dalam pidato menerima Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 1952.

Belakangan kita tahu bahwa demokrasi terpimpin jadi ijtihad politik Soekarno terbukti nyata gagal dan hanya menjerumuskanya pada kediktatoran. Namun terlepas dari tersebut, hari ini apa yang disebutkan Soekarno tentang situasi politik nasional pasca-reformasi rasanya masih tak beralih jauh dari puluhan tahun redup. Lagu kita masih sama Nusantara Raya. Namun problem kita selalu masih sama: ancaman perpecahan dan konflik. Dan kita masih berupaya terus mencari ijtihad bersama.

Jangan-jangan Soekarno benar: revolusi Indonesia (dalam arti menuju kemakmuran rakyat) memang belum selesai serta tak akan pernah selesai pada tempo singkat. [wir/ted]

Esai ini pernah dimuat di Inilah Koran pada Mei 2012