Ponorogo (beritajatim. com) – Ujicoba penerapan new normal di objek wisata Telaga Ngebel, disambut suka ideologi oleh warga yang menggantungkan hidup di sekitar telaga. Ada dengan jual makanan, minuman, mainan tenggat jasa persewaan perahu.

Praktis selama pandemi, keadaan ekonominya terdampak. Telaga Ngebel yang setiap akhir pekan selalu dibanjiri wisatawan, namun dua bulan terakhir nyaris tidak ada kunjungan dari wisatawan.

“Kami sangat terdampak dari pandemi Covid-19, tidak tersedia wisatawan berarti tidak ada penghasilan. Sebab praktis tidak ada wisatawan yang datang saat pandemi 2 bulan terakhir, ” kata Slamet Eko Wibowo, salah satu penyalur mainan di seputar Telaga Ngebel, Selasa (2/6/2020).

Slamet mengungkapkan bahwa di seputar telaga, ada sekitar 200 pedagang yang menggantungkan pendapatannya dari para wisatawan. Alhasil, dirinya saat ini menyambung hidup dengan berhutang. Sebab, dana yang tersisa digunakan untuk keinginan sampai bulan Ramadan lalu.

Wisata Danau Ngebel Ponorogo, Foto: Istimewa

Selain menjual mainan, Slamet juga menjaga toilet ijmal. Jika waktu normal sebelum pandemi, pendapatannya bisa sampai 2 juta per bulan. Namun kali tersebut Dia mengaku jika pendapatannya roboh tajam. Dengan rencana Pemkab setempat membuka lagi Telaga Ngebel buat wisatawan, ibarat sebagai angin segar untuk dirinya dan pedagang lainnya.

“Dengan dibukanya kembali Telaga Ngebel, hendaknya perekonomian disini kembali bergairah sedang, ” katanya.

Tatkala itu Kepala Dinas Kebudayaan Wisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Agus Sugiharto mengatakan dengan dibukanya Telaga Ngebel sebagai ujicoba penerapan new normal, Dia menghimbau kepada karakter usaha disana untuk patuh & menaati protokol pencegahan Covid-19. Yakni dengan menggunakan masker, jaga jarak dan menyediakan fasilitas cuci tangan.

“Pelaku usaha rumah makan kami perintahkan untuk menekan kapasitasnya minimal 30 persen. Pengunjung yang tidak menggunakan masker bakal kami minta putar balik, ” pungkasnya. (end/ted)