Ponorogo (beritajatim.com) – Dusun Sembulan, di Desa Plalangan Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo sekarang sudah ditinggal penduduknya. Warga lebih memilih tempat tinggal yang ramai daripada ada di lingkungan sunyi ditengah persawahan yang luas itu.

Selain ditinggal warganya, Dusun Sembulan juga menyimpan jejak sejarah syiar agama Islam di tempat tersebut. Dimana dulunya, Dusun Sumbulan ini berdiri sebuah pondok pesantren. Namun, saat ini pondok itu sudah hilang, hingga bangunannya pun juga sirna. Hanya meninggalkan Masjid yang sampai saat ini masih kokoh berdiri.

“Dulu ponpesnya ada di depan masjid, tepatnya di selatan jalan. Tapi sekarang sudah tidak ada bangunannya,” kata Sumarno, saksi hidup yang dulunya merupakan warga Dusun Sumbulan, Rabu (3/3/2021).

Sumarno sekarang sudah pindah rumah, masih di Desa Pelalangan, namun tempatnya mudah dijangkau dan lebih ramai. Di Dusun Sumbulan sekarang hanya Masjid yang berdiri kokoh dan terawat. Dulunya masjid itulah tempat ibadah serta mengaji para santri. Di teras masjid juga masih ada bedug yang masih terawat.

Sumarno bercerita bahwa dulu ada ulama yang bernama Nyai Murtadho. Nah, Nyai Murtadho itulah yang mendirikan pondok pesantren yang dulu dikenal dengan sebutan pondok Sumbulan. Nyai Murtadho ini merupakan anak dari seorang ulama dari Demak, yang babat Dusun Sumbulan tersebut.

“Jadi yang babat Dusun Sumbulan ini bapaknya Nyai Murtadho. Nah, Nyai Murtadho inilah yang mendirikan pondok pesantren disana,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, Sumbulan ibarat kampung mati dan sunyi. Pada tahun 1971, saat Sumarno masih kecil, bangunan pesantren telah roboh. Sehingga semua santri dan warga berpindah ke daerah lain. Alasannya, selain pondok pesantrennya yang sudah tidak ada.

Daerah Sumbulan juga terpencil. Wilayahnya dikelilingi sungai, hanya batas bagian timur yang berbatasan dengan sawah, yang menjadi akses satu-satunya menuju Dusun Sumbulan.

“Namun sebagian sisa-sisa peninggalan masih ada, sebagai sejarah pesantren Sumbulan. Diantaranya kitab kuno serta Al Qur’an yang masih tersimpan rapi,” pungkasnya. (end/ted)