Ponorogo (beritajatim.com) – Total ada 7 tuntutan yang disuarakan oleh Aliansi Mahasiswa Ponorogo yang melakukan demontrasi di depan gedung DPRD setempat. Tuntutan-tuntutan tersebut diklaim mahasiswa merupakan keresahan yang terjadi di masyarakat atas kebijakan Pemerintah saat ini.

Salah satunya yang tak kunjung memperoleh solusi ialah kelangkaan minyak goreng. Mereka menilai Menteri Perdagangan M. Lutfi telah gagal dalam menyelesaikan kelangkaan minyak goreng ini. Sehingga berimbas pada naiknya harga komoditas tersebut.

“Mendag M. Lutfi menyatakan bahwa mahalnya harga minyak goreng akibat adanya permainan beberapa pihak atau bisa dikatakan sebagai mafia minyak. Tetapi hingga saat ini Mendag belum bisa mengusut siapa dari mafia minyak tersebut,” kata koordinator aksi, Aldila Mayang Putri Rahayu, Selasa (12/4/2022).

Hal ini justru menunjukkan bahwa pemerintah gagal dalam mengatasi dan mengawal kestabilan harga bahan pokok, khususnya minyak goreng. Apalagi kasus mahalnya minyak goreng ini, didukung oleh pencabutan peraturan Menteri Perdagangan No. 22 Tahun 2021.

“Permasalahan di negera Indonesia tidak hanya berhenti disitu. Masalah demi masalah tidak kunjung diselesaikan. Sehingga menimbulkan kekacauan dimana-mana. Ketegasan Pemerintah dalam mengawal segala problem sangat dipertanyakan,” ungkapnya. [end/suf]

7 tuntutan Aliansi Mahasiswa Ponorogo sebagi berikut:

1. Menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax yang menyengsarakan rakyat
2. Menuntut kesanggupan Pemerintah dalam penyediaan stock Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertalite
3. Mendesak dan menuntut kesanggupan Pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok
4. Mendesak DPR dan Pemerintah untuk mengesahkan RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS)
5. Tolak pencabutan Peraturan Menteri Perdagangan No. 22 Tahun 2021
6. Usus tuntas dan adili mafia minyak goreng
7. Mendukung penuh pelestarian budaya Reog Ponorogo dan meminta konsistensi Pemerintah dalam mengawal pengajuan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO