Lamongan (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan, bahwa program Gemari (Gemar Makan Ikan) di Provinsi Jawa Timur masih menjadi PR (Pekerjaan Rumah). Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi acara ‘Yuk ke Laut’, di Pantai Pengkolan, Desa Kandangsemangkon, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Minggu (12/12/2021).

Turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Diskanla) Provinsi Jatim, sejumlah Kepala OPD Pemprov Jatim, Bupati dan Wabup Lamongan, Sekda Lamongan, Kapolres, Dandim 0812, Forkopimcam Paciran, dan Masyarakat setempat.

“Gemari di Provinsi Jawa Timur sebenarnya masih PR. Karena masih ada daerah-daerah yang stuntingnya masih cukup besar. Daerah-daerah tersebut sebetulnya mereka juga punya area pantai laut yang cukup panjang, seperti beberapa kabupaten di Madura, sehingga ikannya juga cukup,” ungkap Khofifah.

Menurut Khofifah, Jawa Timur memiliki garis pantai utara yang terbentang mulai Kabupaten Tuban sampai Sumenep. Meski begitu, tak semua masyarakat yang berada di pesisir garis pantai ini mengkonsumsi ikan dalam jumlah yang cukup.

“Mungkin mereka menganggap ikan itu biasa saja, karena dari nenek moyang mereka ikan sudah banyak. Tapi tidak dijadikan sebagai suplay utama dalam pemenuhan gizi mereka,” papar orang nomor wahid di Jatim ini.

Oleh sebab itu, Khofifah menuturkan, Gemari akan lebih baik jika dijadikan satu paket dengan upaya pengurangan stunting. Sehingga program Gemari dalam upaya pemenuhan gizi pun akan lebih optimal.

Gubernur Khofifah saat berkunjung ke acara ‘Yuk ke Laut’ Diskanla Jatim, di Pantai Pengkolan, Desa Kandangsemangkon, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Minggu (12/12/2021).

Lebih jauh, saat melihat pameran produk olahan hasil perikanan yang diproduksi oleh UMKM Lamongan di Pantai Pengkolan, Khofifah menilai, bahwa produk industri olahan ikan tersebut sudah lumayan.

“Lumayan itu artinya kalau untuk market lokal sudah oke, tapi kalau untuk market online harus ada kualifikasi tertentu. Semua kalau sudah terkonfirmasi mulai dari kandungan gizi, protein, hingga tidak ada pengawet yang membahayakan, saya rasa memungkinkan bisa dijual online,” terangnya.

Selanjutnya Khofifah menjelaskan, selama pandemi ini permintaan pasar bagi industri olahan ikan masih cukup tinggi, hal itu dibuktikan dengan nilai tukar petani dan nelayan yang tumbuh positif.

Kendati demikian, ia berharap, ke depan akan ada upaya maksimalisasi dari industri olahan, sehingga semua ikan, bahkan yang busuk pun bisa tereduksi.

“Jadi problem di Indonesia termasuk di Jatim, tidak semua titik-titik nelayan punya cold storage yang cukup, maka ikan itu sebenarnya harus diolah. Olahan dimulai dari hilirisasi, dari sektor perikanan,” tandasnya.

Tak hanya itu, Khofifah menegaskan, produk-produk yang bisa memberikan kontribusi besar terhadap kesejahteraan masyarakat harus terus ditumbuhkembangkan, sebagai bentuk ikhtiyar dalam menekan kemiskinan ekstrem.

“Kita harapkan ada percepatan dari penurunan kemiskinan ekstrem yang ada di Jatim,” pungkasnya. [riq/but]