Gresik (beritajatim. com) – Pandemi Covid-19 di tanah air belum sudah. Akibat mewabahnya virus tersebut menimbulkan semua sektor ikut terimbas. Termasuk antara lain sektor pertanian. Namun, di balik kejadian itu ada rencana bagaimana petani milenial yang terlibat dalam Jambore Petani Muda (JPM) bangkit dari pandemi Covid-19.

Salah satu petani milenial yang berbagi pengalaman bagaimana mampu bangkit adalah Ipan Zulfikri asal Ciamis, Jawa Barat. Melalui penggunaan yang berbasis IT dengan nama ‘Si Jagal dan Skoci, Ipan nama panggilannya bisa men-digitalisasi macam tanah sesuai tanaman. Berkat inovasi tersebut Ipan mendapat penghargaan sebagai petani inspiratif.

“Tahap awal kami membuat aplikasi Si Jagal atau sistem informasi jagung galuh dan Skoci dengan kelanjutan sisem informasi kopi Ciamis, ” ujarnya kepada beritajatim. com, Rabu (11/11/2020).

Kedua praktik berbasis IT itu, sangat barangkali di-searching di google. Harapannya, dengan adanya aplikasi tersebut, petani diarahkan mulai dari cara bercocok menanam hingga ke pemasaran.

Diakui Ipan, di masa pandemi Covid-19 yang sampai saat itu belum berakhir menjadi titik balik kebangkitan generasi milenial. Pasalnya, dulu sebelum ada pandemi banyak pemuda berduyun-duyun datang ke kota mengaduk-aduk pekerjaan. Tapi, setelah ada pandemi, mereka kembali ke kampung halamannya karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Ada pandemi malah menjadi titik balik kebangunan petani milenial. Sebab, kalau zaman pegang cangkul dianggap malu. Tapi, sekarang malah dijadikan selfie memotret, ” paparnya.

Berkah menggunakan aplikasi IT saat bertani lanjut dia, sekarang generasi milenial tak malu lagi menjadi petani. Pasalnya, hasil pertanian dari menanam jagung dan kopi cukup menjanjikan.

“Pokoknya hasil sejak bertani tak mengecewakan. Karena tersebut, saya mengajak generasi milenial terjun di sektor pertanian, ” ujar Ipan tanpa merinci nilai rupiah dalam sekali panen.

Sementara itu, Dirut Petrokimia Gresik (PG) Dwi Satriyo Annurogo mengutarakan, JPM merupakan salah satu bentuk komitmen perusahaannya dalam pembangunan pertanian di Indonesia.

“Di tahun keempat ini kami mengusung tema ‘Memanfaatkan Peluang Bisnis Pertanian Pasca New Normal dengan Kaidah Sustainable Agriculture dan High Social Impact’. Dari situ kami ingin mendorong generasi milenial agar bisa memanfaatkan peluang menjadi ladang usaha di sektor pertanian yang beorientasi profit dan memberikan dampak baik di sekitarnya, ” tuturnya.

Selain Ipan Zulfikri, juga muncul petani-petani muda sukses yang terlibat dalam JPM. Diantaranya Juwita Juju (Pelopor Petani Buah Ciplukan), Shofyan Adi Cahya (Petani Muda dari Merbabu), Gerut Lazuardi (Penggiat Kopi Sumatera Selatan), Nur Agis Aulia (Pendiri Publik Banten Bangun Desa), Andro Tunggak (Petani Modern Hidroponik, Founder Fruitable Farm).

Sandi Octa Susila, selaku Ketum Duta Petani Milenial mengatakan, untuk menarik minat generasi milenial, tidak cukup dikerjakan dengan sekedar himbauan atau panggilan saja, tetapi harus dilakukan dengan secara nyata atau konkrit.

“Kita harus menghadirkan role model yang telah berhasil, jadi lebih mudah mengajak milenial terjun ke bidang pertanian, ” tandasnya. [dny/but]