Gresik (beritajatim.com) – Keberadaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) di Ujungpangkah Gresik terus mendapat dukungan sejumlah perusahaan terkait pengembangan hutan mangrove. Kali ini, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggandeng Petrokimia Gresik (PG) untuk penanaman mangrove.

Kegiatan konservasi itu, sudah dilakukan sejak 2015 hingga 2016. Tepatnya di muara Sungai Bengawan Solo dengan menanam mangrove di lahan seluas 2,3 hektare.

Lahan yang awalnya merupakan tanah timbul berupa hamparan lumpur hasil sedimentasi sungai, kemudian ditanami 50 ribu bibit mangrove jenis rhizophora mucronata yang pengelolaannya melibatkan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Sari Laut.

“Setiap tahun perusahaan rutin melaksanakan monitoring. Berdasarkan laporan terakhir, lahan tersebut kini telah berhasil menjadi hutan mangrove yang secara ekologi sangat baik dengan tingkat pertumbuhan dan jenis beragam, serta penyebarannya juga acak,” ujar Dirut PG Dwi Satriyo, Jumat (4/06/2021).

Selain di KEE Ujungpangkah lanjut dia, PG juga melakukan hal yang sama di wilayah lain. Tepatnya,
di Desa Sukorejo Kecamatan, Kebomas dan di Desa Tanjung Widoro (Mengare) Kecamatan Bungah.

“Bentuk kegiatan konservasi di Sukorejo dan Mengare disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat atas permasalahan lingkungan yang ada,” ujar Dwi Satriyo.

Sejak 2018, PG bersama masyarakat Desa Sukorejo berupaya mengubah kawasan sempadan Kali Lamong. Dari semula hanya dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah menjadi tempat ekowisata mangrove yang nyaman untuk dikunjungi. Selain ditanami mangrove, lahan ekowisata ini juga ditunjang dengan adanya boardwalk, gazebo dan papan informasi yang memudahkan pengunjung untuk belajar mengenai lingkungan ekowisata.

Sedangkan di Mengare, permasalahan utamanya adalah abrasi. Upaya ecological mangrove restoration pun dilakukan di lahan seluas 4,5 hektare dengan konsep community based mangrove rehabilitation yang melibatkan Pokmaswas dan kelompok nelayan setempat. Dengan dilakukannya restorasi mangrove dan penyediaan fasilitas pendukungnya sejak 2018 diharapkan kawasan ini dapat menjadi Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) yang ada di Gresik.

“Hingga saat ini, kawasan ekowisata Kali Lamong dan PRPM Mengare telah menerima banyak pengunjung untuk berwisata maupun belajar tentang mangrove,” kata Dwi Satriyo.

Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial (BPEE) Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (Ditjen KSDAE KLHK) Asep Sugiharta menyatakan kawasan mangrove Ujungpangkah telah resmi diakui menjadi KEE melalui SK Gubernur Jawa Timur.

“Perusahaan ini memberi berkontribusi merehabilitasi kawasan mangrove di Desa Pangkahkulon, Kecamatan Ujungpangkah Gresik,” pungkasnya. [dny/but]