Jakarta (beritajatim. com) – Seluruh negeri sedang menghadapi ancaman ekonomi kelanjutan pandemi. Strategi pemulihan yang segera dan tepat dipertaruhkan menhindari genting segala lini yang disinyalir bertambah berbahaya dari pandemi.

Kini pemerintah sedang mempercepat pengoperasian Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Melihat perkembangannya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto optimis pemulihan akan makin cepat masuk kuartal tiga tarikh ini.

Pertumbuhan ekonomi nasional merosot di kisaran dua, 9 persen akibat pandemi Covid-19. Penurunan ini disinyalir akan menerbitkan krisis ekonomi yang bisa berdampak lebih parah dibanding krisis dengan terjadi di era 1998.

Selain itu, pengangguran yang meluas jadi ancaman di ajaran mata mengikuti gulung tikarnya kesibukan ekonomi sampai tingkat nasional. Daya beli masyarakat pun anjlok drastis. Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang sedang diterapkan kini dipercaya pemerintah bisa menghindari potensi kritis sedang dijajaki pemerintah untuk mengatasi dampak pandemi ini.

Penyelamatan Badan Usaha Milik Negeri (BUMN) diseriusi guna menjaga cepat pertumbuhan tetap bertahan di kawasan positif. Namun seberapa cepat, positif, dan efektif pilihan kebijakan dengan diambil pemerintah, di sinilah semua pihak perlu memahami persoalan dengan lebih dalam.

Menanggapi kondisi demikian, Sekolah Politik Indonesia (SPI) diselenggarakan buat mempertemukan berbagai elemen untuk bersama-sama membincangkan strategi pemulihan ekonomi. “Kami mengadakan sekolah ini dalam visi membangun Indonesia di tengah kerawanan krisis yang luar biasa sebab pandemi ini, ” ujar Eksekutif SPI Hendrasmo di Jakarta.

“Pada prinsipnya, kami membuktikan memberi wadah semua pihak untuk bisa paham akan permasalahan mulia dalam negeri, tidak apatis serta pasif menunggu keajaiban di tengah ancaman krisis yang di pendahuluan mata, ” tambahnya lagi.

Serial diskusi pertama diadakan pada Jumat (3/7/2020) mengundang Gajah Koordinator Bidang Perekonomian Dr. (H. C. ) Ir. Airlangga Hartarto, M. B. A., M. M. T., Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Ari Kuncoro, S. E., M. A., Ph. D. “Saatnya kita semua tahu secara lebih gamblang rencana kerja pemerintah pada pemulihan ekonomi nasional, ” ujar Hendrasmo.

Mengenai respon percepatan pemulihan ekonomi, pemerintah mengatakan bahwa ada tiga program & kebijakan secara cepat dan langsung. “Program PEN, program percepatan pemulihan ekonomi. Program êxit strategy yaitu pembukaan ekonomi secara bertahap menuju tatanan normal baru. Reset serta transformasi, mendorong percepatan pemulihan ekonomi, ” ungkap Menko Perekonomian.

Menko Perekonomian juga memasukkan bahwa kebijakan KUR terkait Covid-19 mulai menampakkan hasil. “Sampai secara 31 Mei 2020, terdapat 13 penyalur KUR telah melaporkan pengoperasian kebijakan KUR yang diberikan kepada penerima KUR, ” jelas Airlangga.

Adapun laporan yang dimaksud adalah tambahan subsidi bunga KUR dikasih pada 1. 449. 570 debitur dengan baki debet Rp 46, 1 triliun. Penundaan angsuran topik paling lama 6 bulan diberikan kepada 1. 395. 009 debitur dengan baki debet Rp 40, 7 triliun. Terakhir, relaksasi KUR berupa perpanjangan jangka waktu pada 1. 393. 024 debitur secara baki debet Rp 39, 9 triliun.

Sedangkan buat exit strategy, Menko Perekonomian menjelaskan tiga hal yang harus dipertimbangkan. “Perlu timeboxing untuk berhasil di dua aspek, perekonomian pulih serta aman dari virus. Pencegahan penyaluran virus melalui perluasan kapasitas treatment dan testing, menemukan obat, & vaksin. (Kemudian) penyelamatan perekonomian global, dukungan bagi masyarakat dan dunia usaha yang terdampak, pembukaan ekonomi saat virus mereda, dan percepatan pemulihan ekonomi, ” ungkap Airlangga dalam paparannya.

Sedangkan mengenai reset dan strategi, Airlangga mengatakan “Pandemi Covid-19 mendorong dilakukannya transformasi ekonomi di mana karakter teknologi informasi penting di tepi upaya percepatan perijinan, penyederhanaan birokrasi, serta reformasi digital, ” paparnya.

Bertambah lanjut, dalam Webinar SPI serial pertama ini, Menko Perekonomian membaca bahwa untuk mempercepatnya perlu ada beberapa hal yang dilakukan. Mencakup transformasi digital pasca pandemi, pendirian infrastruktur (padat karya) yang langgeng dilanjutkan, integrasi RTRW kawasan perkotaan dengan kebijakan nasional, dorongan motivasi pajak, dan transformasi struktural.

Menganalisis penanganan pandemi, Rektor UI Ari Kuncoro menyampaikan evaluasi dan pandangannya terhadap kebijakan pemerintah serta langkah apa yang sepantasnya dilakukan pemerintah secara lebih konkrit lagi.

“Berbagai kecendekiaan telah dilakukan selama perekonomian dunia masih hibernasi. Namun nilai tukar rupiah sudah mendekati seperti sebelum pandemi, ” papar Rektor UI Ari Kuncoro. “Diharapkan pemulihan ekonomi domestik dapat juga memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi dunia, ” ujarnya lagi.

Memotret kondisi di masa pandemi, Ari Kuncoro menjelaskan bahwa ada beragam ketegori kelangsungan kegiatan usaha. Misalnya, kesibukan usaha yang bertahan kurang sebab 3 bulan ada pada angka kisaran 41 persen, bertahan 3-6 bulan pada 24 persen, bertahan 6-12 bulan pada 11 upah, dan bertahan lebih dari 12 bulan pada 24 persen.

Memproyeksi geliat ekonomi nasional, Ari Kuncoro mengatakan, “Animo kelompok untuk beraktivitas kembali sebenarnya sudah cukup besar setelah terkungkung di rumah sekian lama. Walaupun pada implementasinya diperlukan pengendalian kerumunan yang lebih baik, untuk mencegah risiko penularan kembali, ” imbuh Ari Kuncoro.

Selain dari para stakeholders dengan diundang, SPI juga menyediakan sesi penutup berisi analis kondisi umum yang diisi Darmawan Prasodjo, Ph. D., penulis buku Jokowi Mewujudkan Mimpi Indonesia. Darmawan memaparkan pandangannya mengenai arah mimpi Jokowi berasaskan serangan pandemi di sektor ekonomi, dan bagaimana cara mimpi Jokowi itu bisa tetap terwujud.

Adapun Serial Diskusi Pemulihan Ekonomi Nasional ke depan bakal dilakukan dalam 8 subtema membabitkan berbagai stakeholders dalam kebijakan pemulihan ekonomi nasional. Mencakup: 1) Desain Pemulihan Ekonomi Nasional, 2) Perembesan Bantuan Sosial sebagai Solusi Pemulihan Ekonomi Nasional, 3) Penguatan Investasi dalam Pemulihan Ekonomi Nasional.

Kemudian, 4) Penguatan UMKM sebagai Backbone Pemulihan Ekonomi Nasional, 5) Infrastruktur dan Program Padat Karya untuk Pemulihan Ekonomi Nasional, 6) Perbankan sebagai Barometer Perbaikan Ekonomi Nasional, 7) Strategi Pengukuhan Ekonomi Kreatif untuk Pemulihan Ekonomi Nasional, dan 8) Manifestasi Poros Maritim Dunia dalam Pemulihan Ekonomi Nasional.

Para rujukan yang diundang pun terdiri sejak pihak pemerintah, akademisi, praktisi, serta para pengamat. Serial diskusi itu pun melibatkan dukungan berbagai BUMN. [hen/suf]