Kita tidak tahu akan menutup tugas di dunia ini surat, di mana, dan dengan jalan apa.

Akan tetapi Tuhan menakdirkan sahabat kita semua Mas Djoko Su’ud Sukahar meninggal pada hari yang banyak diyakini sangat baik.

Hari Jumat, tepatnya 8 Ramadhan 1441 H atau bertepatan tanggal 1 Mei 2020, 45 menit setelah kumandang Ashar. Mas Djoko wafat karena sakit dan setelah sepekan dirawat intensif karena penyakit diabetes yang sudah cukup periode, sekitar 15 tahun, diderita.

Mas Djoko Suud baru saja menjalani amputasi lengah kiri karena infeksi yang sudah menjalar ke seluruh tubuh. Meski sempat tidak sadar saat dibawa ke ICU RSAL dr Ramelan Surabaya, operasi berjalan lancar. Kemarin Mas Djoko sadar dan sempat berkomunikasi dengan putranya. Bahkan rencananya hari ini akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Namun, karena batuk berdahak yang sangat hebat, Mas Djoko tadi pagi kudu menjalani rapid test covid-19.

Hasilnya: Mas Djoko positif covid-19. Dan pagi hari langsung dibawa ke unit perawatan khusus covid-19 di rumah melempem yang sama.

Sore hari Mas Djoko keras dan putra beliau Gusti Syarif Auliah Tirtayasa mengirimkan pesan pada saya “Om Bapak meninggal, jam 16. 15. ” Innalilahi waina ilaihi rojiun.

Hamba percaya hanya kebaikan sajalah yang akan membawa manusia kepada simpulan kehidupan yang baik.

Dan inshaAllah membawa manusia kepada kehidupan abadi yang selalu baik (fidunya khasanah, wafil akhiroti khasanah). Dan di depan mata saya sendiri, saya menyaksikan orang-orang biasa dan bersahaja, menutup suruhan kekhalifahan-nya di dunia dengan elok.

Djoko Suud Sukahar memang bukan siapa-siapa. Hanya seorang wartawan yang sempat menjadi pembela gawang SIWO PWI (klub gerak teman-teman wartawan) yang mendedikasikan dan mengabdikan dirinya kepada dua profesi: kewartawanan dan kebudayaan.

Menjadi wartawan, bagi Djoko Suud, bukanlah sebuah pekerjaan namun adalah way of life (cara hidup) untuk menjaga marwah, karakter, komitmen, dan dedikasinya kepada utama hal: kebenaran.

Biar mengenal Mas Djoko Suud sejak kami sama-sama di Grup Jawa Pos, tapi menjadi akrab saat kami sama-sama pindah ke Jakarta tahun 2009.

Mas Djoko Suud menjadi Majikan Redaksi Majalah Agrofarm dan aku menjadi praktisi komunikasi di pabrik sawit. Klop kami pun beroperasi sama. Mas Djoko membantu aku dalam menjembatani komunikasi dengan teman-teman media khususnya di wilayah Sumatra.

Karena Akang Djoko pernah menjadi pimpro perluasan koran Pos Metro (Grup Jawa Pos) di berbagai wilayah dalam Sumatra seperti Medan dan Batam. Sejak itu kami dekat dan semakin mengenal semakin Mas Djoko adalah sosok yang sangat jujur dalam berteman.

“Lakukan saja yang terbaik, wis mlaku wae (sudah jalan saja), nanti akan ketemu jalannya. Yang awak lakukan sudah tepat, jangan berpaling ke belakang, ” kata Akang Djoko dalam sebuah kesempatan pada Nusa Dua Bali.

Mas Djoko saya ajak keliling kebun sawit di seluruh Nusantara. Masuk kebun perusahaan, juga berkenalan dengan petani.

Karena sikapnya yang rendah kepala dan senang memberikan nasihat dengan pengetahuan tentang filsafat Jawa yang mendalam, banyak yang kemudian cepat akrab.

Tercatat eksekutif perusahaan, petani sawir, dan teman-teman wartawan di desk pertanian. Mas Djoko menjadi “suhu” dengan kehadirannya disambut dan nasihat-nasihatnya tetap dinanti.

Mas Djoko tidak mau menjadi apa-apa, tak mau meraih apa-apa. Dia hanya mau mengalir, menikmati lelakon hidupnya, dan menikmati perannya sebagai pengasuh bagi siapa saja.

Meskipun memiliki privilege buat bisa menulis kolom politik di media besar seperti Detikcom dan Harian Rakyat Merdeka, namun Djoko Suud tak ingin. menjadikan tersebut sebagai capaian untuk membusungkan depan.

Mas Djoko biasa saja. Mau menulis, bersetuju tidak menulis, dia tidak mengikuti kemauan siapa pun. Dia hanya mengikuti kemauan hati nuraninya.

Mas Djoko Suud telah setahun terakhir banyak di Surabaya setelah ada infeksi di suku kirinya karena diabetes. Oktober awut-awutan, ditemani Cak Andy Setyawan saudara pengurus PWI Jatim, kami beriringan teman-teman wartawan berkumpul di Bali pada sebuah kegiatan konferensi sawit internasional.

Januari lalu saya juga mengajak beberapa kolega ke kediaman Mas Djoko Suud di Griya Kebraron Surabaya. Sekadar menjenguk. Masih segar & penuh semangat.

Minggu lalu, hari pertama Ramadhan, Raka Djoko kembali masuk RS, bahkan dalam kondisi tidak sadar.

Tidak banyak yang bisa saya lakukan di tengan pandemik covid-19 sekarang. Namun mengingat apa yang Mas Djoko tunjukkan kepada saya akan arti penting ketulusan hati dalam berteman, melaksanakan saya bertekad memberikan yang unggul membantu yang bisa dibantu untuk Mas Djoko dalam situasi yang sulit saat ini.

Saya bersyukur dan berterima kasih karena banyak teman yang peduli, pasti karena semua memahami Mas Djoko sebagai seorang dengan baik dan tulus, termasuk masa tadi pagi Mas Djoko dinyatakan positif covid-19.

Banyak teman serentak membantu mengkomunikasikan kondisi Mas Djoko kepada Satgas Covid-19 Jatim sehingga bisa ditangani dengan cepat dan baik. Tetapi, Allah SWT telah memilih Akang Djoko untuk datang pada keadaan dan bulan yang sangat dimuliakan.

Secangkir kopi pahit dan rokok filter tak akan lagi menemani kami saat diskusi berdua tentang apa saja. Mengenai Tuhan, pekerjaan hingga soal perempuan. Tidak ada lagi.

Dan saya kehilangan seorang sahabat terbaik yang memang cukup mendapatkan penghormatan terbaik. Selamat hidup Mas Djoko Suud Sukahar.

(tofan. [email protected] com)

Jakarta, 1 Mei 2020