Jombang (beritajatim.com) – Gema adzan dzuhur berkumandang di masjid pesantren Tebuireng Jombang, Selasa (13/4/2021). Para santri keluar dari kamarnya. Mengenakan baju putih, memakai peci hitam, dan berangkat ke masjid.

Sebelum menginjakkan kaki ke serambi masjid, santri-santri tersebut mengambil air wudlu. Setelah melantunkan pujian-pujian, salat berjamaah dimulai. Semua berlangsung khusuk. Usai salat dzuhur, santri Tebuireng tidak kembali ke asramanya.

Namun mereka tetap berada di serambi masjid yang berada di depan dalem kasepuhan pondok pesantren Tebuireng tersebut. Para santri itu hendak mengikuti pengajian kitab kuning yang disampakan oleh KH Fahmi Amrullah Hadzik atau Gus Fahmi.

Gus Fahmi duduk di kursi yang sudah disiapkan. Di depannya ada meja lengkap dengan mikropon. Pengajian pun dimulai. Gus Fahmi membedah kitab Miftahul Falah. Sedangkan para santri yang berada di belakangnya sibuk mencatat. Memberi makna pada kitab yang mereka bawa.

Dalam kajian tersebut Gus Fahmi membahas panjang lebar tentang bab nikah. Mulai dari rukun-rukun nikah, syarat-syarat nikah, serta adab-adab nikah. Gus Fahmi juga menjelaskan bahwa kitab Miftahul Falahi merupakan karya cucu Hadratusyaikh KH Hasyim Asyari, KH Ishomudin Hadzik atau Gus Ishom.

“Kitab Miftahul Falahi ini merupakan karya Gus Ishom, cucu Hadratusyaikh KH Hasyim Asyari. Kitab Miftahul Falah melengkapi kitab Dhou’ul Misbah, karya KH Hasyim Asyari. Kalau Miftahul Falah lebih banyak mengupas hadist yang berhubungan dengan pernikahan,” ujar Gus Fahmi yang juga cucu pendiri NU Hadratusyaikh KH Hasyim Asyari ini.

KH Taufiqurrohman menyampaikan kajian kitab Nurudz Dzolam, Karya Syekh Nawawi Al-Bantani, usai salat tarawih

Terpisah, Gus Fahmi menjelaskan, kegiatan bulan Ramadan di pesantren Tebuireng masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Di antaranya pengajian kilatan Ramadan. Yakni kajian puluhan kitab kuning. Kitab tersebut diantaranya Hadzihi Risalah Jamiah Maqasid karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Kemudian kitab Nurudz Dzolam, karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Selain itu juga kajian Shohih Bukhori yang notabene sudah menjadi tradisi yang terus dipertahankan sejak masa pendiri Pesantren Tebuireng KH. Hasyim Asyari, hingga saat ini.

“Kegiatan puasa Ramadan di Tebuireng tidak jauh beda dengan tahun lalu. Bedanya, kalau tahun lalu full online, karena awal pandemi Covid-19. Tapi tahun ini ada metode tatap muka. Karena santri sudah berada di pondok. Namun santri yang berada di rumah juga bisa mengikuti secara online. Karena kajian ini disiarkan secara langsung melalui youtube,” ujar Gus Fahmi.

Pengurus pesantren Jombang Teuku Azwani menambahkan, ada puluhan kitab kuning yang dikaji selama puasa Ramadan. Namun yang disiarkan secara live ada empat, yakni Shohih Bukhori yang diampu oleh KH Kamuli Kudlori. Kajian ini dilakukan dua kali, yakni pukul 11.00 – 13.00 WIB dan pukul 15.30 – 17.30 WIB di serambi masjid induk pesantren Tebuireng Jombang.

Kemudian kitab Miftahul Falahi yang diampu oleh KH Fahmi Amrullah Hadzik. Kajian kitab kuning ini dimulai setelah salat zuhur. Ketiga adalah kitab Nurudz Dzolam yang diampu oleh KH Taufiqurrahman, pengash PPSA (Pondok Pesantren Sunan Ampel) Jombang. Kajian kitab karya Syekh Nawawi Al-Bantani tersebut dilakukan usai salat tarawih.

KH Kamuli Khudlori menyampakan kajian Sahih Bukhori di pesantren Tebuireng Jombang

“Sementara KH Syakir Ridlwan menyampaikan kajian kitab Hadzihi Risalah Jamiah Maqasid, karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Kajian ini dilakukan di masjid Tebuireng setelah subuh. Empat kajian tersebut disiarkan secara live melalui youtube,” kata Azwani.

Masih ada puluhan kitab lainnya yang dikaji dalam kegiatan Ramadan di Tebuireng. Semisal kitab Risalah Ahli Sunah Wal Jamaah, Irsyadul Mu’minin, dan lain sebagainya. Selain di serambi masjid, kajian tersebut juga dilakukan di wisma santri. [suf]