Jember (beritajatim.com) – Majelis Ulama Indonesia mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, agar memfasilitasi sosialisasi fatwa mengenai ajaran dan ritual keagamaan melalui acara tayang bincang (talk show) di stasiiun televisi dan radio lokal.

Ketua MUI Jember Abdul Haris mengatakan, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan MUI membutuhkan anggaran besar untuk menurunkan personel dalam menyampaikan fatwa-fatwa tersebut ke masyarakat. Padahal sosialisasi diperlukan agar masyarakat tak mudah terpengaruh dengan kelompok-kelompok seperti Tunggal Jati Nusantara yang membuat ritual di Pantai Payangan yang berujung tewasnya sebelas orang warga.

“Bagaimana misalnya pemkab memfasilitas kami untuk mengadakan talk show setiap minggu, menyosialisasikan fatwa-fatwa yang pernah diputuskan MUI. Keinginan kami kuat, tapi untuk merealisasikan itu (secara mandiri) agak kesulitan,” kata Haris, dalam rapat koordinasi pasca peristiwa tragedi ritual maut Pantai Payangan yang menewaskan 11 orang, di Pendapa Wahyawibawagraha, Jember, Senin (14/2/2022).

Haris juga meminta agar ada pendampingan dari polisi dan jaksa saat MUI turun ke masyarakat untuk mencari data seputar kelompok Tunggal Jati Nusantara sebagai bahan bagian kajian. Kajian ini untuk menentukan tingkat kesalahan ajaran ritual yang dilakukan.

Sebanyak 23 orang anggota kelompok tarikat Tunggal Jati Nusantara yang dipimpin Nurhasan melakukan kegiatan ritual di Pantai Payangan untuk membersihkan diri dan mendapatkan berkah dari Ratu Pantai Selatan. Namun sebelas orang justru tewas tergulung ombak laut selatan. [wir/but]