Gresik (beritajatim.com) – Tradisi kolak ayam atau sanggring digelar setiap bulan Ramadan di hari ke-23 menyambut malam lailatul qodar. Tradisi ini merupakan peninggalan Sunan Dalem, seorang wali penyebar agama Islam asal Gresik yang sampai saat ini terus dilestarikan hingga menginjak 496 tahun.

Uniknya tradisi tersebut cuma hanya digelar di Masjid Jami’ Sunan Dalem. Tepatnya, di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Gresik. Lebih unik lagi juruk masak untuk membuat kolak ayam bukan perempuan (ibu-ibu) melainkan laki-laki yang sudah memiliki keahlian meracik bumbu kolak ayam.

Seorang warga sedang menata hidangan kolak ayam, atau sanggring untuk berbuka puasa di Masjid Jami’ Sunan Dalem. Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Gresik

“Ada pantangan kalau yang memasak perempuan. Bisa jadi kakinya kena air panas atau gayung untuk mengambil kuah bisa patah. Karena itu, setiap ada tradisi ini perempuan dilarang ke dapur pembuatan kolak ayam,” ujar A.Suudi (42) selaku Panitia Sanggring, Kolak Ayam ke 496 kepada beritajatim.com, Selasa (5/05/2021).

Suudi menjelaskan karena masih ditengah pandemi Covid-19. Pihaknya membatasi jumlah pengunjung yang datang ke Masjid Jami’ Sunan Dalem. Selain membatasi kerumunan panitia juga memberlakukan protokol kesehatan (Prokes) guna memutus penyebaran virus Covid-19.

Tahun ini kata Suudi, panitia tradisi sanggring atau kolak ayam. Memasak 125 ekor ayam untuk berbuka puasa. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dibanding penyelenggaraan tahun lalu yang hanya memasak 80 ekor ayam.

“Dari 125 ekor ayam yang dimasak total ada 250 porsi yang nantinya disajikan bersama-sama dengan warga saat berbuka puasa,” katanya.

Untuk membuat kolak ayam tersebut, prosesnya dilakukan H-1 sebelum hari ke 23 Bulan Ramadan. Bumbu racikannya terdiri gula merah 100 kilogram, jinten, santan kelapa, dan daun bawang. Semua proses itu, dilakukan dengan alat masak tradisional dan dikerjakan oleh laki-laki.

“Tradisi ini sudah berjalan 496 tahun dan warga pun ikut andil dengan melakukan patungan uang sebesar Rp 100 ribu untuk membeli ayam serta bumbu untuk membuat kolak ayam,” ungkap Suudi.

Sementara itu, Didik Wahyudi (44) salah satu warga Desa Gumeno menuturkan, tradisi kolak ayam sebagai wujud apresiasi serta melestarikan budaya peninggalan Sunan Dalem. Salah satu tokoh penyebar agama islam di pesisir utara Gresik sekitar 1541 masehi.

“Sejarah kolak ayam berawal dari kebiasaan Sunan Dalem yang membuat masakan ini sebagai obat untuk mengobati sakitnya. Resep tersebut ternyata mujarab karena bisa menyembuhkan sakitnya Sunan Dalem termasuk warga sekitar,” tuturnya.

Sejak itu, tradisi ini menjadi santapan rutin di Bulan Ramadan di hari ke 23. Kolak ayam itu diyakini bisa menjadi obat bagi mereka yang menderita sakit. [dny/but]