Siapa pemimpin dunia yang paling populer di era sekarang pascaperang dingin? Jawaban: Minimal ada 3 pemimpin negeri paling populer saat ini, yaitu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden China Xi Jinping, & Presiden Rusia Vladimir Putin. Ke-3 pemimpin negara tersebut, masing-masing negaranya memiliki kapasitas dan kecanggihan militer luar biasa dibanding banyak negara lain.

Dalam prospek ekonomi, kapasitas dan besaran ekonomi ketiga negara tersebut, terutama diukur dari gross domestic national product, besaran cadangan negara, dan lainnya meninggalkan jauh banyak negara yang lain. Pun demikian dengan kekuatan militernya. Belanja militer AS, China dan Rusia terbesar di dunia, selain India: negeri berpenduduk terbesar ke-2 di dunia di bawah China.

Yang menarik, dari ketiga pemimpin dunia tersebut, per negara berbeda kualitas dan gradasinya dalam menerapkan demokrasi. AS dikenal sebagai pendekar demokrasi, sekali pula di era Presiden Donald Trump, demokrasi AS dinilai mengalami setback. Amerika Serikat sekarang di lembah Presiden Trump mengalami degradasi demokrasi.

Bahkan, ada pendirian yang menyebut dunia sekarang medium menuju ke arah resesi demokrasi, seiring dengan makin menguatnya kedudukan politik strategis China komunis di panggung internasional dan makin agresifnya Rusia di bawah kepemimpinan Putin.

Masa sejak runtuhnya tembok Berlin di Jerman, yang menandai bersatunya Jerman Barat yang berhaluan liberal-kapitalis secara Jerman Timur berpaham sosialis-komunis tenggat tahun 2015, dipandang sebagai era seperempat abad paling demokratis di dunia. Di era itu kebijaksanaan politik luar negeri Amerika Konsorsium dan negara-negara koleganya di Eropa Barat memiliki komitmen dan kecendekiaan prodemokrasi bersifat strong di penuh belahan dunia.

Teks pun kepentingan strategis Amerika Konsorsium dipertaruhkan, seperti di sebagian tumbuh negara Asia, Afrika, Eropa Timur, dan Amerika Latin, pemerintah Amerika Serikat memakai tekanan diplomatik, bantuan ekonomi, dan instrumen kebijakan sungguh negeri lain untuk menentang otoriterisme dan memperkuat demokratisasi selama pascaperang dingin.

Di masa Presiden Trump, Amerika Serikat membuang peran sebagai promotor demokrasi pada ranah global sejak pertama kalinya pascaperang dingin. “Di era Trump adalah pemerintahan Amerika Serikat dengan paling tidak prodemokrasi sejak kala Presiden Richard Nixon. Selain itu, Amerika Serikat tak lagi menjadi model demokrasi. Sebab, Presiden Trump menyerang pers, mengancam mau memenjarakan pesaing politiknya, tidak bisa membela demokrasi secara kredibel, dan membuktikan mungkin tak menerima hasil pemilu, ” kata Steven Levitsky serta Daniel Ziblatt (2019: 180).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump

China sejak Oktober 1949 memproklamirkan diri sebagai communist state terbesar dunia, mengingat besaran demografinya yang mencapai 1, 7 miliar lebih. Setelah program lompatan jauh ke depan dan revolusi kultur di era Mao Zedong, bapak China modern, mengalami kegagalan mutlak, dengan ongkos kemanusiaan dan politik sangat mahal. Sebanyak 30 had 60 juta warga China secara cara disiksa dan menderita kelaparan saat program lompatan jauh ke depan diterapkan secara rigid serta keras oleh Mao Zedong.

China di masa Kurungan Xiaoping tak menerapkan konsepsi komunisme secara konservatif, tekstual, dan rigid. Di era Deng, komunisme China mengalami revisi praksis, terutama di bidang ekonomi.

Di ranah politik, konsep komunis langgeng dijalankan dan diterapkan secara konsisten dan tekstual. Sedang di dunia ekonomi, model ekonomi kapitalisme rekan dan kapitalisme negara diterapkan secara berbarengan. Sehingga struktur ekonomi China kekinian mensintesakan antara kekuatan ekonomi privat dan publik. Keduanya membenarkan dan bersandar bahwa pasar ialah kekuatan utama yang mampu mengakselerasi economic growth. China telah periode meninggalkan model sistem etatisme ekonomi yang sepenuhnya bertumpu kepada gaya state.

Deng yang meninggal dunia pada 19 Februari 1997, karena mengidap penyakit peparu dan parkinson, dikenal sebagai arsitek paling penting yang menancapkan tonggak bagi pertumbuhan ekonomi China dalam akhir abad 20. Artinya, bentuk China masa kini yang terang dan gemerlap tak bisa dilepaskan dari ide, pemikiran, dan policy nasional di era Deng. Kebijakan Deng, terutama di sektor ekonomi lebih bercorak liberal-kapitalis.

Sempat menempuh pelajaran di Perancis, di sebuah komune bernama La Garenne-Colombes, Deng bertemu dengan para calon pejuang revolusi China, seperti Zhou Enlai, Nie Rongzhen, Cai Hesen, dan Zhao Shiyan. Deng dikenal sebagai propagandis ulung di tubuh tentara penghentian rakyat. Ide-ide Mao mampu diterjemahkan Deng menjadi fondasi perjuangan partai hingga akhirnya RRC berdiri dalam Oktober 1949.

Dibandingkan dengan Mao Zedong dan atasan China komunis lain yang pemikirannya konservatif, Deng dinilai masuk gerombolan komunis pragmatis. Di masa revolusi kebudayaan di China, Deng tahu dikirim ke pedesaan di Jiangxi untuk menjalani reedukasi komunisme, sebab mengecewakan Mao dan faksi komunis bergaris konservatif yang melingkari Mao.

Apa kemudian yang dilakukan Deng adalah menerapkan nilai-nilai sosialisme dan komunisme dengan istimewa China: kolaborasi nilai-nilai sosialisme dengan kebijakan ekonomi pragmatis yang ramah investasi asing dan aktif di perdagangan global. Terlepas dari itu semua kekurangan dan kelemahan selama Deng berkuasa, terutama sikap represif militer China atas demo mahasiswa di lapangan Tiananmen, di kurun Deng China mengalami kemajuan asing biasa. Program penurunan angka kekurangan terbesar dalam sejarah umat manusia terjadi di China di era itu. Penjualan skala global China pada 1978 berniai USD 10 miliar dan tiga dekade kemudian angkanya sudah seratus kali ganda.

Xi Jinping, Pemimpin China sekarang, tampil sebagai karakter kuat secara politik domestik dan global. Seiring makin kokohnya ekonomi China dan besarnya pengaruh negara ini di banyak kawasan asing di dunia, terutama di Afrika dan Asia, yang ditandai dengan adanya program global China bernama Jalur Sutra, maka secara geopolitik, China di era Xi Jinping adalah China yang sangat diperhitungkan secara ekonomi, politik, sosial, serta pertahanan di panggung global.

Perang dagang Amerika Konsorsium versus China yang sampai sekarang belum menemukan panacea final dengan disepakati kedua pihak, mengindikasikan terjadinya pertarungan keras memperebutkan kepemimpinan kebijakan global antara Amerika Serikat serta China. Xi Jinping menjadi orang kuat China setelah Mao Zedong dan Deng Xiaoping.

Presiden China Xi Jinping

Li Riu, seorang aktivis dan idealis hingga hari kematiannya, pernah mengutarakan, “Kita tidak boleh membicarakan kesalahan-kesalahan yang telah lalu. ” Tersebut dikatakan Li Rui tahun 2013 sambil merenungkan persamaan antara atasan China yang baru terpilih masa itu, Xi Jinping, dengan pembuat Partai Komunis Cina, Mao Zedong.

Jinping tengah meniru penindasan terhadap kebebasan berpikir pribadi seperti yang dilakukan Mao, & juga tengah membangun kepribadian dengan bersifat pengkultusan seperti Mao. Li adalah mantan sekretaris pribadi Mao Zedong sejak tahun 1958. (BBC, 18 Februari 2019).

Di sisi lain, Rusia yang mengalami kebangkrutan ideologi komunis semenjak akhir 1980-an, di bawah Kepala Vladimir Putin ingin come back ke panggung internasional dengan sistem demokrasi berusia muda. Yang berlaku di Rusia sekarang adalah tanda hybrid demokrasi: Desain sistem serta mekanisme demokrasi yang dipilih secara normatif dan tekstual. Tapi secara praksis banyak langkah dan keputusan politik yang menafikan dan mengembat demokrasi.

Putin menjelma orang kuat di Rusia sesudah bangkrutnya komunisme di negara tersebut. Di era Uni Sovyet status politik Putin tidak luar pokok. Tapi, kini Putin menjadi asing biasa. “Tanpa Putin, tidak ada Rusia. ” Ini adalah prinsip deputi kepala staf Kremlin yang juga disuarakan jutaan warga Rusia yang selama dua dekade belakang menempatkan Vladimir Putin pada puncak kekuasaan, apakah itu dalam bentuk perdana menteri atau presiden.

Referendum 1 Juli 2020 memberikan kemenangan kepada kelompok dengan menghendaki perubahan konstitusi. Rakyat Rusia menyetujui perubahan isi konstitusi negara tersebut tentang masa jabatan kepala. Dengan demikian, Putin bisa menjabat sebagai Presiden Rusia hingga tahun 2036, karena dia memiliki peluang berkontestasi di dua pemilihan umum Rusia di masa depan.

Putin siap tokoh politik paling kuat pada Rusia. Anak-anak negeri ini dengan tahun kelahirannya di awal kala 21 tak ada yang tak mengenal Putin, seperti halnya rakyat Rusia (dulu Uni Sovyet) yang lahir di awal abad 20 pasti mengenal Vladimir Lenin & Joseph Stalin, dua pemimpin komunis Sovyet yang dikenal kejam serta bengis.

Yang memikat dari Putin adalah dia berganti posisi jabatan di antara perut jabatan paling penting di lanskap politik Rusia: Perdana menteri & presiden. Dia pertama kali menjelma perdana menteri tahun 1999, menjelma presiden (2000-2008), kembali sebagai perdana menteri (2008-2012), dan jadi presiden lagi (2012). Jabatan perdana gajah pertama diperoleh setelah Putin menggondol kepercayaan dan ditunjuk Presiden Boris Yeltsin.

Selain tersebut, sebagai presiden Rusia, Putin banyak memperoleh dukungan dari kalangan oligarki di negara tersebut, termasuk dibanding sokongan Boris Berezovsky dan kalangan oligarki lainnya. Putin mampu membawa diri menjadi presiden sementara, kedudukan yang kemudian dia amankan melalui kemenangan pemilu pada Maret 2000.

Kepala Rusia Vladimir Putin

Relasi baik antara Putin dan kaum oligarki Rusia yang mendukung secara politik di titik awal karirnya tak berlangsung lama. Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt (2019: 66), mencatat: Di Rusia sesudah jaringan televisi independen NTV milik Vladimir Gusinsky mendapat reputasi menyebalkan, pemerintah Putih mengerahkan petugas pajak, yang kemudian menahan Gusinsky karena melakukan pelanggaran finansial. Gusinsky ditawari kesepakatan seperti dalam film mafia: serahkan NTV demi kemandirian. Gusinsky menerima tawaran itu, menganjurkan NTV kepada perusahaan energi manusia besar yang dikendalikan pemerintah: Gazprom. Dia lalu meninggalkan Rusia.

Nasib serupa dialami miliarder Boris Berezovsky, pemegang saham terbesar perusahaan televise ORT yang tidak mau tunduk dengan eksepktasi dan tuntutan Putin. Ketika liputan ORT berangkat kritis terhadap kebijakan Putin pada pemerintahan Rusia, pemerintah mengangkat teristimewa satu kasus penipuan lama dan memerintahkan penahanan Berezovsky. Selanjutnya, Berezovsky kabur ke luar negeri, ke pengasinan, dan menyerahkan manajemen televisi miliknya kepada mitra yuniornya dengan baik hati menyerahkannya pada Putin. [air]