Kediri (beritajatim. com) – Untuk melindungi objek peninggalan purbalaka, komunitas sejarah beriringan dengan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) dan warga desa menggelar pemugaran cungkup peneduh piagam paradah yang berada di Daerah Siman Kecamatan Kebupaten Kediri.

Hal tersebut dilakukan jawab mengamankan serta melindungi Prasasti Nggurit atau Siman. Pasalnya kondisi cungkup tersebut sudah rusak, sehingga kala terkena hujan dan panas dikhawatirkan tulisan yang terdapat pada prasasti tersebut hilang.

Subagyo, Kades Siman mengucapkan terima afeksi atas kepedulian komunitas sejarah dan Lesbumi yang telah rela melayani pemugaran terhadap Prasasti nggurit ataupun siman. Oleh karenanya, pihaknya bersama dengan masyarakat desa pun serupa turut gotong royong dalam jalan pemugaran.

“Warga bergandengan komunitas dan Lesbumi melakukan pemugaran cungkup Prasasti Nggurit atau Siman, dan pemugaran cungkup tersebut mengungkung penggantian atap dan tiang, berjalan merawat dan melindungi tulisan dengan terdapat pada prasasti dari kerusakan, ” ungkapnya.

“Selama ini Pemerintah Desa tidak dapat membantu dengan langsung. Pasalnya, lokasi Prasasti Paradah ini status kepemilikan tanahnya belum jelas, sehingga secara legalitas Pemerintah Desa tidak dapat mengalokasikan pemberian APBDES untuk perawatan situs purbakala tersebut, ” imbuh Kades yang telah menjabat dua periode tersebut.

Sementara itu pemerhati sejarah, Novi Bahrul Munib mengucapkan bahwa pemugaran situs Prasasti Paradah ini berawal dari kepedulian komunitas sejarah di Jawa Timur terpaut perlindungan benda cagar budaya.

“Awalnya kita melihat wadah ini kondisinya memprihatinkan dengan pokok penyangga yang sudah reyot & hampir roboh, sehingga kami berkoordinasi dengan pemerintah desa, dan disepakati pemberian bantuan oleh komunitas kenangan yang ada di Indonesia serta dikerjakan bersama dengan warga tempat, ” tutur Novi.

Pemugaran Cungkup itu menjadi hal yang penting menetapi Prasasti Paradah ini kondisinya sedang sangat baik. Semua tulisan yang ada dalam prasasti ini utuh dan tidak rusak akibat panas dan hujan.

“Padahal masih banyak tulisan yang belum bisa diartikan oleh komunitas memori kami, selain itu dalam piagam ini adalah peninggalan dari Ayah Sendok atau Kerajaan Medang di bumi Mataram Timur, ” tambahan Novi

Diharapkan melalui pemugaran cungkup, serta melihat kondisi prasasti dari peninggalan Dinasti Isyana ini yang sangat baik mampu melestarikan situs budaya yang ada di Kabupaten Kediri. [nm/suf]