Gresik (beritajatim.com) – Puluhan warga Desa Bringkang, Kecamatan Menganti, Gresik, menolak pendirian tempat peribadatan. Penolakan itu dilakukan karena pengurus tempat peribadatan melanggar kesepakatan dengan warga.

Sambil membawa spanduk berisi tuntutan, warga melakukan orasi di depan pintu gerbang gudang tempat tempat peribadatan didirikan. Penolakan tersebut juga dilatarbelakangi melanggar kesepakatan bersama warga sesuai peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri (PMB) nomor 9 dan 8 tahun 2006. Dimana, di aturan itu pengurus tempat peribadatan mengindahkan kesepakatan. Sehingga, warga melakukan penolakan.

Terkait dengan tuntutan warga, sejumlah Muspika Menganti, bersama Koramil dan Polsek Menganti serta tokoh masyarakat setempat menggelar audiensi dengan pihak-pihak yang bersangkutan, baik dari pengurus tempat peribadatan maupun dari pihak warga yang menolak.

“Sudah ada penyelesaian, kedua belah pihak terkait SKB dua menteri secara tertulis, dan ditanda tangani bersama. Pengurus meminta maaf berjanji tidak akan mengulangi lagi selama proses izin tempat peribadatan belum dipenuhi sesuai aturan yang berlaku,” ujar Pj Camat Menganti, Moh.Khoirul, Minggu (10/04/2022).

Sementara itu, secara terpisah Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Gresik, Nanang Setiawan menuturkan, terkait dengan ini pihaknya telah melakukan upaya mediasi dengan pihak-pihak yang bersangkutan. Kendati demikian, dirinya memastikan bahwa aktivitas peribadatan di bangunan gudang tersebut belum memiliki izin resmi.

“Panitia sudah meminta maaf dan tidak akan mengulangi lagi, karena tadi sudah terlanjur membuat kegiatan, dan proses perizinan gudang tersebut sebagai tempat peribadatan juga belum ada,” ungkapnya. [dny/but]